Showing posts with label SUKU DAYAK. Show all posts
Showing posts with label SUKU DAYAK. Show all posts

Suku Dayak Kalimantan/Borneo

SUKU DAYAK KALIMANTAN/BORNEO
Presiden Jokowidodo mengenakan pakaian adat dayak kalimantan

daftar pembahasan:
1.Dayak
2.Istilah dan Arti Kata Dayak
3.Rumpun Dayak
4.Sub-Sub Suku Dayak borneo/kalimantan. 

DAYAK
Dayak adalah nama yang oleh penduduk pesisir borneo/kalimantan diberikan kepada penghuni pedalaman yang mendiami Pulau Borneo/Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara). Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Berau dan Tidung.

Istilah dan Arti Kata “DAYAK”
Istilah dan arti kata Dayak itu sendiri masih bisa diperdebatkan, karena secara Teori istilah dan arti kata dayak adalah sebagai berikut:

Istilah Dayak
Istilah Dayak paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau Kalimantan. Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa di antaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya.

Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya (Kanayatn: orang daya= orang darat), sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu). Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan untuk penduduk asli Kalimantan Barat yakni rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban).
Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, selanjutnya oleh pihak kolonial Belanda hanya kedua daerah inilah yang kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak. Sejak masa itulah istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya, khususnya non-Muslim atau non-Melayu.

Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895. (sumber:Wikipedia.com)

Arti kata DAYAK
Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya, Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’. (sumber:Wikipedia.com)

Koreksi dari Istilah dan Arti Kata Dayak diatas berdasarkan realita di lapangan:1.Didalam masyarakat kalimantan pada umumnya, Istilah dayak ditujukan kepada semua orang yang lahir dari keturunan nenek moyang dayak, bukan berdasarkan Agama yang dianutnya. 2. Istilah Dayak tidak diperuntukan kepada Suku Banjar, karena Suku Banjar tidaklah masuk dalam kategori rumpun dayak. 3. Didalam masyarakat dayak malaysia, orang Dayak yang non Muslim juga disebut sebagai Orang Dayak atau suku dayak apabila masih keturunan Dayak. 4. Arti kata Dayak memang masih diperdebatkan, karena masyarakat luar mengartikan dayak dengan artian yang berbeda-beda, dan masyarakat dayak mengartikan kata dayak jugan berbeda-beda, lebih cenderung berdasarkan dengan cerita leluhur mereka masing-masing.
Kesimpulannya
Secara teoritis istilah dan arti kata Dayak, istilah dayak adalah sebutan masyarakat luar kepada penduduk asli kalimantan yang mayoritas berada di pedalaman kalimantan dengan sebutan Dayak, sedangkan arti kata Dayak diartikan sebagai masyarakat pedalaman, masyarakat/orang hulu sungai, namun ini masih bisa diperdebatkan. Secara teoritis istilah dan pengartian Dayak diatas berdasarkan sudut pandang Religius dan secara geogafis serta perilaku sosial.

Rumpun Suku Dayak
Rumpun Suku Dayak adalah kelompok-kelompok besar suku dayak yang terdiri dari puluhan bahkan ratusan sub-sub didalam satu ruppun Dayak.
Suku dayak di kalimantan terdiri dari 7 rumpun yaitu: Dayak Ngaju (Biaju), Dayak Apo Kayan, Dayak Iban/Dayak Laut, Dayak Klemantan/Dayak Darat, Dayak Murut, Dayak Punan, dan Dayak Ot Danum.
Berikut penjeasan dari rumpun dayak di kalimantan, seperti dikutip dari hipwee.com,

1. Dayak Ngaju (Biaju)
Dayak Ngaju (Biaju) merupakan Dayak yang bermukim di daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan atau di daerah Kalimatan Tengah, Kalimatan Selatan, serta Kalimantan Barat bagian selatan. Dayak Ngaju memiliki sub-suku Ngaju, Bakumpai, Katingan, Meratus, Tomun, dll.
Ciri khas dari Dayak Ngaju adalah agama kaharingan yang masih dianut oleh sebagian suku Ngaju, serta upacara Tiwah, atau upacara mengantarkan roh leluhur. Untuk pakaian adat, Dayak Ngaju biasanya menggunakan warna merah sebagai warna dominan, kain atau rompi dari kulit kayu, serta menggunakan bulu burung enggang dan ruai sebagai hiasan kepala.

2. Dayak Apo Kayan
Dayak Apo Kayan mungkin merupakan Sub-suku Dayak yang paling sering dilihat dan gaya berpakaiannya sudah dikenali oleh Kaskuser. Dayak Apo Kayan merupakan suku Dayak yang berasal dari Hulu sungai Kayan dan dataran tinggi Usun Apau, Baram, Sarawak. Saat ini Dayak Apo Kayan menyebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Sarawak, Malaysia. Sub-suku yang termasuk dalam rumpun Apo Kayan adalah Kayan, Kenyah, Bahau, Kelabit, dll. Di Malaysia, Dayak Apo Kayan dikenal dengan sebutan Orang Ulu.
Ciri khas dari Dayak Apo Kayan adalah telinga panjang, serta tato di sekujur tubuh yang menandakan status sosial di masyarakat. Pakaian adat Dayak Apo Kayan biasanya di dominasi oleh warna Hitam, Putih, dan Kuning. Serta dapat ditemukan berbagai hiasan manik-manik dan hiasan bulu enggang.

3. Dayak Iban/ Dayak Laut
Dayak Iban, disebut juga Dayak Laut, merupakan rumpun dayak yang berada di daerah utara pulau Kalimantan. Dayak Iban menyebar di daerah Kalimantan Barat bagian utara, Sabah, Brunei, dan merupakan penduduk mayoritas yang ada di Sarawak. Dari segi bahasa Dayak Iban memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu dan merupakan salah satu sub-suku Dayak yang memiliki aksara sendiri. Adapun sub-suku dari Dayak Iban adalah Mualang, Seberuang, Melanau, dll.

4. Dayak Klemantan/ Dayak Darat
Dayak Klemantan atau disebut juga Dayak Darat mendiami daerah barat pulau Kalimantan. Rumput dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Dayak Darat di Malaysia dikenal dengan nama orang Bidayuh. Sub-suku dari Dayak Darat adalah Kanayatn, Bidayuh, Ketungau, Toba', dll.

5. Dayak Murut
Darat Murut merupakan rumpun Dayak yang berasal dari derah utara dataran tinggi pulau Kalimantan. Dayak Murut tersebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Adapun sub-suku dari Dayak Murut adalah Okolod, Keningau Murut, Paluan, dll.
Dayak Murut memiliki tarian yang terkenal yaitu tarian Mangunatip. Perkataan Magunatip diambil daripada perkataan "atip" yang bermaksud menekan antara dua permukaan. Penari magunatip memerlukan kemahiran dan ketangkasan yang baik untuk menari melintasi buluh yang dipukul serentak untuk menghasilkan bunyi dan irama tarian tersebut.

6. Dayak Punan
Dayak Punan merupakan rumpun yang mendiami daerah Kalimantan Timur, Kalimatan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Malaysia. Dayak Punan memiliki sub-suku Hovongan, Penan, Uheng Kareho, Punan Murung, Bukat, dll.
Masyarakat Dayak Punan dikenal dari pola hidup yang nomaden atau berpindah-pindah, hal ini berbeda dengan kebanyakan suku Dayak lain yang memiliki rumah panjang sebagai tempat tinggal. Saat ini kebanyakan dari sub-suku Dayak Punan telah menetap dan membuat komunitas di suatu desa yang tersebar di berbagai daerah.

7. Dayak Ot Danum
Rumpun Ot Danum atau Rumpun Barito adalah salah satu rumpun Dayak yang meliputi hampir seluruh suku Dayak di Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian selatan dan Kalimantan Barat bagian tenggara. Ada yang berpendapat bahwa kelompok Dayak Rumpun Ot Danum merupakan induk bagi Rumpun Dayak Ngaju, namun terkadang kedua rumpun dipisahkan. Sub-suku dari Dayak Ot Danum adalah Ma'anyan, Tunjung, Benuaq, Lebang, Undan, dll.
Ciri khas dari Dayak Ot Danum adalah pada beberapa upacara penting, seperti upacara kematian, Dayak Ot Danum menggunakan kerbau sebagai binatang yang dikurbankan selain babi. Di dalam upacara tradisional tersebut, para dukun biasanya menggunakan gelang logam dan kalung dengan berbagai ornamen kayu, manik, tulang, dsb.

Pakaian tradisional Dayak memiliki variasi warna beragam, termasuk ikat kepala dan ada beberapa sub-suku Dayak Ot Danum yang juga menggunakan daun kelapa sebagai hiasan (maanyan). Alat musik tradisionalnya adalah Gong, Gendang, dan Kollatung.

Sub-Sub Suku Dayak Kalimantan
Suku dayak dikalimantan sangat banyak, terlepas dari rumpun-rumpun besar suku dayak diatas, sub-sub suku dayak ini merupakan bagian dari rumpun dayak diatas, didalam satu rumpun-rumpun dayak terdiri dari begitu banyak sub-sub sukunya yang berbeda namun hampir sama, menurut J. U. Lontaan, 1975, suku dayak terdiri dari 6 suku besar dan sub-sub suku dayak terdiri lebih dari 405 sub suku, didalam sub suku dayak dikalimantan memiliki adat dan istiadat yang mirip. Namun sampai sekarang, belum ada kepastian berapa jumlah suku dayak di kalimantan, diperkirakan masih ada suku dayak yang belum masuk dalam hitungan J.U.Loantaan.

berikut adalah nama-nama dari sub suku dayak yang ada di kalimantan Barat, namun daftar ini bukan berdasarkan sub dari rumpun dayak, melainkan daftar seluruh suku dayak yang tersebar di pulau kalimantan barat, dan kami tidak menjamin keakuratan data tersebut, karena data ini kami peroleh dari referensi internet, namun bisa dijadikan gambaran atau acuan anda.

Suku Dayak Kalimantan Barat merupakan orang-orang asli yang tinggal di Pulau Kalimantan khususnya daerah provinsi kalimantan barat. Dari sekian banyak suku yang ada, Suku Dayak merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Suku Dayak tergolong masyarakat adat yang menjunjung tinggi warisan dan kearifan tradisionalnya secara berkelanjutan.
suku dayak kalimantan barat

Suku Dayak yang berada diwilayah provinsi kalimantan barat terbagi menjadi beberapa sub-suku berikut ini:
1. Angan                     
2. Badat                   
3. Bakati’
4. Balantiatn                
5. Banyadu’                
6. Banyuke
7. Barai                     
8. Batu Entawa             
9. Baya
10. Beginci                 
11. Behe                   
12. Benawas
13. Bi Somu                 
14. Bihak                  
15. Bubung
16. Bugau                   
17. Buket                  
18. Bukit-Talaga
19. Butok                   
20. Dait                   
21. Daro
22. Desa                    
23. De’sa                  
24. Dosatn
25. Ella                     
26. Ensilat                
27. Entabang
28. Gerai                   
29. Gerunggang             
30. Golik
31. Goneh                   
32. Gun                    
33. Hibun
34. Iban                    
35. Inggar Silat           
36. Jagoi
37. Jalai                   
38. Jangkang               
39. Jawatn
40. Joka’                   
41. Kalis                  
42. Kanayatn
43. Kancinkng               
44. Kantu’                 
45. Kayaan
46. Kayan                   
47. Kayong                  
48. Kebahan
49. Keluas                  
50. Kendawangan            
51. Keneles
52. Keninjal                
53. Kenyilu                
54. Kepuas
55. Kerabat                  
56. Keramay                
57. Ketior
58. Ketungau                
59. Ketungau Sesae'        
60. Kodatn
61. Koman                   
62. Konyeh                 
63. Kowotn
64. Krio                    
65. Kubitn                 
66. Lamantawa
67. Lau’                    
68. Laur                   
69. Laya
70. Lebang                  
71. Lemandau               
72. Liboy
73. Limbai                  
74. Linoh                  
75. Mahap
76. Mali                    
77. Mayan                  
78. Mayau
79. Melahoi                 
80. Mentebah               
81. Menterap Kabut
82. Menterap Sekado
83. Mentuka’               
84. Mualang
85. Muara                   
86. Mudu’                  
87. Nahaya’
88. Nanga                   
89. Nyadupm                
90. Oruung Da’an
91. Panu                    
92. Pangin                 
93. Pantu
94. Papak                   
95. Paus                   
96. Pawatn
97. Paya’                   
98. Pesaguan               
99. Pompakng
100. Pruna’
101. Pruwan                
102. Punan
103. Punti                 
104. Randu’                
105. Ransa
106. Rantawan              
107. Rembay                 
108. Salako
109. Sami                  
110. Sane                  
111. Sangku’
112. Sapatoi               
113. Sawai / Sawe          
114. Sebaru’
115. Seberuang              
116. Sekajang              
117. Sekapat
118. Sekubang              
119. Sekujam               
120. Selawe
121. Selibong              
122. Senagkatn             
123. Sengkunang
124. Seritok               
125. Sikukng               
126. Silatn Muntak
127. Simpakng              
128. Sisang                
129. Sontas
130. Suaid                 
131. Sum                   
132. Suru’
133. Suruh                 
134. Suti                  
135. Taba
136. Tadietn               
137. Tamambalo             
138. Taman
139. Taman Sekado          
140. Tameng                
141. Tawaeq
142. Tayap                  
143. Tebang                
144. Tebidah
145. Tengon                
146. Tinying               
147. Tobak
148. Tola’                 
149. Ulu Sekadau           
150. Undau
151. Uud Danum

mungkin masih ada suku dayak yang belum masuk daftar ini, mengingat memang suku dayak di borneo memang-memang sangat banyak.
semoga bermanfaat. :)
sumber: http://penulisopini.blogspot.com/2013/01/dayak-kalimantan-barat.html



ciri-ciri umum masyarakat adat Suku Dayak

kali ini saya akan membahas ciri-ciri umum masyarakat adat Suku Dayak, karena saya sendiri adalah ber suku dayak maka saya akan menjelaskan apa saja ciri-ciri umum masyarakat dayak di kalimantan, khususnya Kalimantan Barat

1. Senjata Kebanggaan Orang Dayak 
mandau suku dayak di kalimantan
Mandau, pic by:boombastis.com
    di suku mana pun di belahan bumi manapun, setiap suku pasti ada yang namanya senjata tradisional yang mana merupakan alat perlindungan diri dari kemungkinan ancaman atau alat untuk berburu, pada zaman dahulu masyarakat dayak sangat bergantung pada alam, semua orang dayak harus bisa berburu untuk bertahan hidup,bahkan dulu sebelum kemerdekaan Indonesia, masyarakat adat suku dayak dalam sejarahnya pernah ada adat atau tradisi Ngayau (kayau) atau cari kepala manusia sebagai syarat untuk melamar seorang gadis untuk dijadikan istrinya, dan senjata-senjata tradisional yang digunakan pada saat itu adalah Mandau, Sumpit, kujur/ Tombak, ini merupakan senjata Favorit pada masa itu untuk mengayau, namun menurut ceritanya tradisi ngayau ini sudah di hapus pada tahun 1874 melalui musyawarah yang berbulan-bulan lamanya, seluruh sub-sub suku dayak pada masa itu berkumpul untuk membahas adat ngayau atau kayau ini dan setelah pedebatan panjang akhirnya didapat kesepakatan untuk menghapus tradisi atau adat ngayau dari suku dayak yang dikenal dengan Perjanjian Tumpang Anoi dengan alasan Kemanusiaan. meskipun adat ngayau sudah dihapus dari suku dayak, tetapi alat-alat tradisional masih tetap dipergunakan untuk berburu di hutan, dan sampai sekarang masyarakat adat suku dayak masih memelihara Mandau, Sumpit, Tombak/Kujur, dan alat-alat tradisional lainnya. nah itulah senjata kebanggaan suku dayak yang sekaligus menjadi ciri Khas dari suku dayak itu sendiri.
sumpit sekaligus tombak suku dayak, picture by:Indomiliter.com

2. Rumah Betang
rumah betang 1894, picture by:COLLECTIE TROPENMUSEUM

    Rumah betang, mungkin asing ditelinga anda jika anda orang luar pulau kalimantan, ya rumah betang juga merupakan ciri khas suku dayak, rumah panggung yang sanggat tinggi kira-kira 3-5 meter dari tanah, yang bentuknya memanjang dan dihuni oleh banyak keluarga, rumah betangpanjang tidak kurang dari 30 meter dan lebarnya tidak kurang dari 10-15 meter, bahkan rumah betang khas suku dayak ini ada yang mencapai panjang 150 meter dan lebarnya 30 meter, dan dihuni ratusan jiwa didalamnya, namun seiring perkembanggan zaman, rumah betang perlahan mulai ditinggalkan dan masyarakat lebih memilih membangun rumah sendiri dengan keluarganya, tapi masih ada rumah betang yang dihuni oleh banyak keluarga, dan bukan hanya itu, seiring perkembanggan zaman juga, masyarakt tetap mempertahankan Identitas rumah betang, hanya saja beralih Fungsi dari dulunya sebagai tempat tinggal namun sekaran dijadikan tempat pelatihan atau sanggar dan dijadikan tempat mini musium wisatawan, dengan tujuan memperkenalkan sekaligus melestarikan adat dan budaya ditengah terpaan modernisasi. semoga saja kita bisa mempertahankan adat dan budaya ini.
Rumah Betang Sekarang, Picture by:http://wisatapontianak.com

3. Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan Barat
maaf belum selesai : hehe
oke kita lanjut, apa saja sih alat musik tradisional orang suku dayak kalimantan barat?

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang pertama Sape atau Sapek


picture: http://pakdheetnik.blogspot.co.id

     Alat musik sapek ini sebenarnya berasal dari suku dayak di kalimantan, baik itu Dayak Indonesia, Dayak Malaysia, maupun Dayak Brunei. alat musik ini seklias hampir mirip dengan gitar namun sebenarnya sangat berbeda, fret (batas nada, dalam istilah setempat disebut lasar) yang jumlahnya belasan pada gitar namun pada sapek itu hanya 2-3 saja, bahkan kadang tidak ada sama sekali yang terletak pada bagian leher. Hampir seluruh lasar terpasang di bagian tubuh. Keunikan lainnya, lasar-lasar itu bisa digeser atau dipindah-pindah, karena pemasangannya tidak tertanam permanen seperti gitar, melainkan ditempelkan dengan lem yang sangat kental dan tak pernah kering, yang terbuat dari madu-lebah. Dengan cara pemindahan lasar itulah laras atau "susunan-nada" (modus) sapek berganti-ganti.

     Jika kita cermati struktur alatnya, sapek merupakan jenis lut-siter (lute-zither), yakni campuran antara lut (berleher, kawat terbentang melebihi tubuh) dan siter (bentangan kawat pada tubuh). Bahkan untuk sapek yang seluruh lasar-nya berada di bagian tubuh, ia adalah siter, dan leher dalam sapek seperti itu hanya berupa "sambungan" antara tubuh dan kepala (tempat di mana pengencang dawai menancap).

Hiasan di bagian kepala dan pangkal biasanya berbentuk binatang mitologis, yang dianggap punya kekuatan untuk menaklukan unsur apa pun yang akan mengganggu. Jenis binatang yang paling banyak diukirkan adalah burung engang dan anjing. Hiasan-hiasan yang berbentuk meliuk konon adalah binatang sejenis lintah, yang licin, yang pandai menelusup ke sana-sini seperti bunyi musik yang juga lihai menelusup hati, mencari dan membuat jalan pengembaraan batin.

Sapek biasa dimainkan sebagai instrumen menyendiri (melulu musik) atau juga untuk iringan tari. Sapek adalah salah satu musik Dayak yang spesial. Walaupun banyak orang yang bisa main, namun para pemain yang khusus memiliki teknik yang spesial pula, memiliki cara tersendiri baik untuk jari-jari tangan kiri (yang berpindah-pindah memainkan nada) maupun tangan kanannya yang memetik. (Endo Suanda, disarikan dari wawancara dengan Dominikus Ayub, pemain sapek di Pontianak, Kalimantan Barat).

sumber artikel: http://tikarmedia.or.id

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang kedua adalah keledik

sumber gambar:https://semuatentangprovinsi.blogspot.co.id
     Keledi adalah alat musik tiup tradisional yang berasal dari Kalimantan Barat. Keledik / Kedire ini merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dan benang. Keledi atau dibuat dari buah labu yang sudah tua (berumur 5-6 bulan) kemudian dikeluarkan isinya, direndam selama satu bulan, dan selanjutnya dikeringkan. Buah labu dan batang-batang bambu disatukan dengan menggunakan perekat dari sarang kelulut (sejenis lebah hutan berukuran kecil). Alat musik ini menghasilkan nada pentatonik. keledi dimainkan untuk mengiringi nyanyian tradisional, tarian, teater tutur (berupa syair dalam nyanyian yang berisi nasihat dan petuah) serta saat upacara adat pada suku bangsa Dayak.

sumber artikel:tradisikita.my.id

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang ketiga adalah Agukng/gong

picture:http://tiaraasdiana-putri.blogspot.co.id
     Agukng adalah alat musik tradisional yang kita kenal sebagai Gong atau masyarakat suku dayak seberuang menyebutnya KetawaQ. Alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul ini merupakan salah satu alat musik yang kerap dipakai dan dianggap sakral. Agukng / Gong dapat ditemui hampir di seluruh kelompok Dayak dan dipercaya diturunkan langsung oleh para dewa dari kayangan untuk dimainkan dalam upacara-upacara adat. Instrumen ini dipercaya dapat mengusir roh jahat dan mendatangkan roh para leluhur atau makhluk gaib lainnya. Hal ini karena Agukng memiliki suara atau  bunyi yang agung untuk mengiring kedatangan roh para leluhur atau makhluk gaib yang dapat membantu dalam melaksana ritual. 

sumber artikel:tradisikita.my.id

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang keempat adalah Tarah Umat

     Alat musik terah umat berasal dari Kalimantan Barat yang fungsinya tidak beda jauh dengan gamelan jawa.  Umat itu dalam bahasa daerah Kalimantan artinya adalah besi. Alat musik tradisional Kalimantan Barat ini memang terbuat dari besi yang dimainkan dengan cara dipukul, maka disebut dengan Terah Umat.

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang kelima adalah Entebong

entebong alat musik tradisional kalbar
pic:googlepicture
      Entebong adalah salah satu alat musik Kalimantan Barat yang terbuat dari kayu dan kulit binatang yang lebih kita kenal seperti kendang/gendang. Memang alat musik Entebong ini bentuknya seperti gendang yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik satu ini terdapat di Kabupaten Sekadau yang dibuat oleh suku Dayak Mualang.

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang ketujuh adalah Kangkung
Kangkuang adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul dan terbuat dari kayu yang diukir sedemikian rupa. Dibuat oleh masyarakat suku Dayak Banuaka di daerah Kapuas Hulu.

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang kedelapan adalah Kangkung
Rabab atau yang biasa dipanggil rebab adalah alat musik tradisional Kalimantan Barat yang cara memainkannya dengan digesek. Alat musik ini dibuat oleh suku Dayak Uut Danum.

Alat musik tradisional suku dayak kalimantan Barat yang kesembilan adalah Balikan
Balikan atau Kuranting adalah alat musik petik sejenis dengan alat musik Sapek namun ukurannya sedikit lebih kecil seperti ukulele. Alat musik tradisional ini dibuat oleh suku Dayak yang tinggal di daerah Kapuas Hulu.

mungkin masih ada alat-alat musik tradisional dayak yang belum keekspost, jadi tidak menutup kemungkinan masih ada yang ketinggalan hehe,,
demikianlah postingan tentang ciri-ciri umum masyarakat adat suku dayak, semoga bermanfaat dan lebih mengenal orang dayak biar bisa cinta dayak 😁😀😆