Showing posts with label CERITA RAKYAT. Show all posts
Showing posts with label CERITA RAKYAT. Show all posts

bujang beji dan bukit kelam- cerita rakyat kalbar


   Tersebutlah di Sintang, Kalimantan Barat, seorang pemimpin sakti bernama Sebeji atau disebutBujang Beji. Yang sayangnya, memiliki karakter buruk. Bersama para pengikutnya, Bujang Beji tinggal di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Kapuas. Berkebalikan dengan Bujang Beji, di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Melawi, tinggal seorang pemimpin bijak berkarakter baik bernama Temenggung Marubai.
    Semua tindak-tanduknya didasarkan pada kebaikan dan manfaat semua pihak. Dan, di sinilah segalanya bermuara. Karakter buruk yang melekat pada Bujang Beji membawa hatinya pada rasa iri. Begitu dengki Bujang Beji saat anak buahnya melaporkan bahwa ikan-ikan di Simpang Melawi jauh lebih berlimpah jumlahnya dibandingkan Simpang Kapuas. Tentu saja, ini lantaran cara menangkap ikan yang diterapkan kedua pemimpin ini berbanding terbalik. Bujang Beji dalam tiap tangkapan selalu berusaha mendapatkan ikan banyak tanpa peduli ikan besar dan ikan kecil. 

     Sedangkan, Temenggung Marubai mempunyai trik yang berbeda. Ia selalu memisahkan ikan besar dan ikan kecil dalam tangkapannya. Ikan besar diambilnya, ikan kecil dikembalikannya ke sungai ditunggu sampai besar baru ditangkap kembali. Dilaporkan begitu bukannya membuat Bujang Beji berpikir melakukan cara yang sama dengan Temenggung Marubai. Hal pertama yang dipikirkan Bujang Beji adalah bagaimana menyaingi Temenggung Marubai. Hal ini memberi ide kepada Bujang Beji untuk menangkap ikan dengan menabur menuba (sejenis racun ikan).

  Pada awalnya, hasil ikan tangkapan Bujang Beji jauh melimpah dibandingkan Temenggung Marubai. Bujang Beji pun boleh sombong diri. Hanya saja, akibat menuba yang ditabur setiap hari, lama kelamaan ikan-ikan di Simpang Kapuas semakin menipis. Kebanyakan sudah ditangkap, sisanya mati membusuk. Bujang Beji pun menghentikan aksinya sebelum semuanya terlambat. Ia memikirkan langkah selanjutnya, yaitu menjatuhkan Temenggung Marubai.

    Setelah dipikir-pikir, ia harus mengurangi jumlah ikan yang ada di Simpang Melawi. Caranya, ia akan menutup aliran di hulu Simpang Melawi dengan batu besar. Saat aliran air terbendung secara otomatis ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.  Bujang Beji memilih puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu, Demi mengangkatnya, Bujang Beji mengeluarkan kesaktiannya hanya berbekal tujuh lembar daun ilalang.

Di tengah perjalanan, Bujang Beji ditertawai oleh bidadari yang melihat perbuatannya. Tentu Bujang Beji dongkol bukan kepalang. Ketika hendak sampai di persimpangan Kapuas - Melawi, Bujang Beji melihat ke atas. Ia ingin meludahi wajah cantik para bidadari yang tengah mengejeknya. namun Belum sempat ia melakukan itu, rupanya kaki Bujang Beji menginjak duri. Ia pun berjingkat-jingkat, Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak Bukit Batu terputus. Alhasil, puncak Bukit Batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau, yang disebut Jetak. Bujang Beji pun sangat Geram ketika menatap wajah para bidadari yang masih menertawakannya.
”Awas, kalian! Tunggu pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada para bidadari kahyangan tersebut, sambil mencukil duri dari kakinya.
”Enyah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji, perasaannya marah. Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi.

Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu. Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu (sejenis pohon kayu raksasa yang menjulang tinggi ke langit) yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah. Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Beji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.

Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.
”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang. ”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran. ”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang. 

Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat. ”Kretak... Kretak... Kretak... !!!” Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji. ”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong. 

Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji. Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.

begitulah cerita rakyat tentang asal usul bukit kelam, bukit yang di nobatkan sebagai batu terbesar di dunia ini kini menjadi distenasi wisata Rohani, namun tetap terbuka untuk umum, siapa saja yang ingin berkunjung kesana silahkan hehe,,

sumberartikel " asal usul bukit kelam " : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com/
cerita Aji Melayu

cerita Aji Melayu

         berikut ini kelanjutan dari cerita Puyang Gana, sebenarnya lebih tepat ini cerita SABUNG MENGULUR dan isterinya bernama PUKAT MENGAWANG. karena ini cerita Puyang Gana dan saudara-saudaranya sampai akhirnya ada hubungan dengan cerita Aji Melayu, cerita ini saya beri judul Cerita Aji Melayu, karena cerita tentang Aji Melayu sangat Terkenal dalam Masyarakat Kalimantan Barat khususnya Sintang dan sekitarnya. dan bagi yang belum membaca cerita Puyang Gana, wajib membacanya, karena ini keanjutan ceritanya.

picture by::tribunnews.com

Lanjutt......
  Anjuran-anjuran  Puyung Gana, diperhatikan semuanya dan dikerjakan oleh anak-anak itu dengan penuh keyakinan. Karena telah dikerjakan dengan sebenarnya, akhirnya mereka telah mendapat hasil yang luar biasa banyaknya. Maka diadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Sementara mereka dalam suasana kegembiraan yang luar biasa ini, turunlah mereka mandi kesungai. Dan bersimburanlah dengan air anak-anak itu. Adat sekarang masih berlaku pada suku ini, Namun demikian karena akhirnya Putung Kempat ditimpa penyakit kusta. Mula-mula hanya terasa gatal pada kulitnya. Penyakit ini sukar sekali obatnya. Dan memang pada waktu itu belum mempunyai obat. Untuk hidup bersama dalam waktu-waktu yang cukup lama tidak mungkin. Mereka takut terjangkit juga penyakit kusta.

    Dan kakak beradik itu mencari akal, untuk menyingkirkan Putung Kempat. Akhirnya dicapai kesepakatan untuk membuat sebuah rakit. Putung Kempat didudukkan di atasnya, dilengkapi  dengan segala keperluan hidupnya. Lalu kemudian ia dihanyutkan ke sungai Sepauk. Kakak beradik ini mempunyai sebuah piring pusaka yang amat besar. Dalam piring itulah Putung Kempat didudukkan. Sungguhpun piring pusaka itu besar, tapi kaki Putung Kempat masih terjuntai-juntai menyapu air. Sambil berhanyut, kakinya dengan bau yang merangsang mengundang ikan-ikan untuk datang menjilat luka-luka pada kakinya. Dan lukanya sembuh dengan hasil jilatan ikan selama perjalanan rakit yang berminggu-minggu lamanya di atas sungai Sepauk. Suatu ketika rakit yang ditumpangi oleh Putung Kempat itu terdampar pada sebuah batu besar. Rakit itu tak dapat bergerak beberapa hari lamanya. Sementara ia terdampar dan tak berdaya, datanglah kijang yang mencium serta menjilat bekas dan sisa-sisa luka. Pelanduk/kancil pun turut berandil menyembuhkan luka-luka Putung Kempat. Dari kisah inilah penduduk daerah ini tidak suka makan daging Kijang dan pelanduk.

  Dengan tak diduga-duga sama sekali, datanglah banjir dari hulu sungai. Banjir itu menyerang rakit Putung Kempat, membawa dia beralih mengalir lebih ke hilir sungai Sepauk. Disana terpancang sebuah bubuh ikan Aji Melayu. Dan di situlah rakit Putung Kempat tersangkut. Nasib mujur bagi Putung Kempat karena tersangkut pada bubuh ikan Aji Melayu. Pagi-pagi Aji Melayu menuju bubuhnya. Ia heran melihat seorang wanita cantik telah terpancang, bagaikan penunggu bubuh yang setia. Aji Melayu kemudian memberanikan diri mendekati wanita itu. Apalagi ia tahu bubuh itu adalah miliknya. Dan dengan perasaan malu bercampur gembira, Aji Melayu mencoba menyapa wanita itu: "Mengapa sampai terdampar ke bubuh ini?" Maka Putung Kempat menjawab: "Saya diasingkan oleh saudara-saudara saya, karena saya menderita penyakit kusta." Maka Aji Melayu membujuk Putung Kempat untuk dibawa ke rumah Aji Melayu. Aji Melayu menjadi lupa akan bubuhnya yang telah berisi ikan.

  Bekas-bekas luka masih nampak pada diri Putung Kempat. Aji Melayu dengan pengetahuan yang ada padanya, berusaha mengobatinya. Dan kemudian ternyata Putung Kempat menjadi sembuh dari penyakit kusta yang telah dideritanya cukup lama itu. Kesembuhan Putung Kempat lebih menambah kecantikan dirinya. Kini kasih sayang Aji Melayu lebih bertambah. Aji Melayu kemudian merencanakan untuk mengawini Putung Kempat. Menurut dugaannya, lamarannya pasti tidak akan ditolak. Apalagi ia merupakan seorang raja kecil di kampungnya itu. Belum lagi dengan kemanusiaannya ia telah menolong mengobati penyakit kusta Putung Kempat. Maka lamaran Aji Melayu pun diajukan, Putung Kempat ketika menerima lamaran ini tidak bersikap masa bodoh. Tapi ia mulai menunjukkan aksinya. Ia ingin mengadakan ujian kesaktian dengan Aji Melayu. Putung Kempat ingin menguji dan mengetahui dengan jelas apakah Aji Melayu benar keturunan raja. Dan Putung Kempat merentangkan tali menyeberangi sungai. Di atas tali terentang ini Putung Kempat memohon dengan hormat agar Aji Melayu berjalan kaki menyeberangi sunagi itu. Sambil berjalan menyeberang dianjurkan harus mungacip pinang. Suatu ujian yang sangat berat buat Aji Melayu. Namun demikian Aji Melayu tidak gagal. Aji Melayu sukses dalam ujian yang maha berat itu.Tempat dimana tali diikatkan, sampai sekarang bernama "lawang tinjau." Dan kini Aji Melayu membalas uji, ingin mengetahui siapakah sebenarnya si Putung Kempat. Dan Ujian inipun dapat dilalui oleh Putung Kempat. Dan akhirnya keduanya mengikat tali kasih berupa hidup sebagai suami-isteri. Dari hasil perkawinan ini kemudian keduanya mendapat seorang anak perempuan. Ia diberi nama "DAYANG LENGKONG."

  Aji Melayu adalah seorang yang bijaksana dan berani. Ia menjadi seorang raja kecil dalam daerah Sepauk. Ia seorang raja yang kaya. Kekayaannya tersimpan dalam satu gudang, terisi dalam tujuh buah tajau/tempayan. Konon menurut cerita, kekayaan Aji Melayu sampai kini masih ada sisanya. Batu peninggalan tanda kerajaan Aji Melayu masih terdapat dan masih dipelihara baik oleh rakyat. Mereka menamakannya "Batu Pujaan" atau "Batu Kalbut."  Sampai sekarang masih dapat dilihat kedua batu tersebut. Begitu juga dengan makam Aji Melayu di Nanga Sepauk. Akan halnya Putung Kempat yang telah lama hilang dari saudara-saudaranya, kini telah timbul kerinduan di kalangan saudara-saudaranya untuk bertemu kembali. Tapi dimana mereka akan menemuinya? Di manakah tempat terdampar rakitnya? Apakah Putung Kempat  masih hidup? Hanya saja ada berita-berita angin yang menyatakan bahwa Putung Kempat berada di hilir sungai Sepauk. Maka kelima bersaudara itu berusaha untuk menemuinya. Dalam pikiran mereka, mudah-mudahan Putung Kempat masih hidup. Kemudian datang berita bahwa Putung Kempat telah kawin dengan seorang raja. Hanya ada satu hal yang sulit, yaitu menemui raja Aji Melayu, ipar mereka, tidak semudah menangkap seekor semut putih. Kalau mendatangi Aji Melayu pasti menemui ajal, karena kena racun. Tapi Bui Nasi tidak takut untuk menemuinya.

  Bui Nasi mempunyai kesaktian pribadi yang cukup ampuh. Ia dapat mengirim orang-orangan patung atau boneka sebagai pengganti dirinya guna menghabiskan segala racun. Kembalinya orang-orangan itu, membuktikan mereka tidak usah takut masuk ke rumah Aji Melayu. Maka mereka masuk dengan bebas Aji Melayu menjadi kaget melihat lima orang yang tidak atau belum pernah dikenal. Kemudian mereka memperkenalkan diri Aji Melayu mengambil posisi untuk menanyakan dari mana asal mereka. Sesudah mendengar penjelasan dari kelima bersaudara itu, Aji Melayu menyuruh mereka untuk tidur dengan Putung Kempat di atas daun pisang. Dengan syarat daun pisang itu tidak boleh pecah/sobek sedikit juapun. Suatu ujian yang menyakinkan dari Aji Melayu, kalau benar-benar mereka itu bersaudara kandung dengan Putung Kempat. Tantangan ini bagi Bui Nasi tidak menjadi halangan atau rintangan. Dalam perlakuan ini Aji Melayu mengintip dengan tombak dari atas loteng. Ia merencanakan, bila daun pisang itu sobek atau pecah, segera ia menombak mereka. Tapi apa yang terjadi. Sampai pagi hari, daun pisang yang dipakai untuk tidur itu, sedikitpun tak ada yang sobek. Ujian yang berat inipun belum cukup memuaskan bagi Aji Melayu. Ia masih ingin menguji sekali lagi. Aji Melayu curiga terhadap kelima bersaudara yang datang menemui Putung Kempat ini. Dalam hatinya berkata mungkin mereka ini adalah mata-mata musuh, dari Aji Kumbang.

  Aji Melayu kemudian menguraikan segala soal permusuhannya dengan Aji Kumbang yang berdiam di Batu Kantuk, sebelah hulu sungai Kapuas, daerah Belitang. Kemudian Aji Melayu mengatakan: "Kalau kiranya Aji Kumbang masih hidup, maka hidupku tidak pernah tenang." Pertahanan Aji Kumbang sangat kuat. Bentengnya terdiri dari aur berduri. Sukar ditembus musuh. Saya telah berulang kali menyerang tapi selalu gagal. Dan untuk meyakinkan saya bahwa kamu enam orang ini bersaudara, tolonglah saya. Kalahkan dan tewaskan Aji Kumbang. Tawaran ini diterima baik oleh kelima orang bersaudara itu terutama Bui Nasi. Segera kelima saudara itu berunding. Selesai berunding, Bui Nasi dengan empat saudaranya berangkat menuju pertahanan Aji Kumbang, serta meninggalkan pesan: "Ingat baik-baik, bila kelihatan berhanyutan bambu aur, kerahkanlah pasukan bantuan Aji Melayu"! Pesan yang membayangkan kemenangan itu tetap diingat oleh Aji Melayu. Maka berangkatlah kelima orang bersaudara itu dengan menyamar sebagai pedagang. Pertemuan mereka dengan Aji Kumbang berlangsung dalam suasana ramah tamah. Aji Kumbang tidak menaruh curiga sedikit jua pun. Aji Kumbang adalah seorang yang tamak dan loba harta. Siapa saja pedagang yang datang kedaerahnya, diterima dengan ramah. Pertemuan yang ramah ini, digunakan sebaik-baiknya oleh Bui Nasi untuk memainkan peranan yang penuh dengan siasat. kekayaan emas, intan dan batu permata yang beraneka indah dan lain sebagainya itulah yang menjadi pusat perhatian Bui Nasi untuk membingunkan pikiran Aji Kumbang.

  Bui Nasi kemudian berterus terang kepada Aji Kumbang bahwa ia sangat bermusuhan dengan Aji Melayu yang jahat itu. Bui Nasi kemudian menerangkan seluk-beluk persoalan mereka sehingga meyakinkan Aji Kumbang. Akhirnya Aji Kumbang menjadi turut simpati dan siap membantu menyerang bersama Bui Nasi. Mereka menyusun siasat tempur. Semua usul Bui Nasi dituruti oleh Aji Kumbang tanpa pertimbangan dan kecurigaan apa-apa. Bui Nasi mengusulkan agar Aji Kumbang jangan menyesal akan kekayaan yang ada padanya. Sebaiknya harta itu digunakan untuk mengupah rakyat, demi suksesnya penyerangan. Tanpa pikir panjang dan karena yakin serta percaya akan Bui Nasi diserahkannya seluruh emas, perak, intan berlian serta batu permata. Sebaliknya Bui Nasi dengan roman munafiknya menggambarkan dendam kesumat terhadap Aji Melayu. Dan berangkatlah mereka sepasukan diwaktu malam gelap menuju Aji Melayu.

  Tapi apa yang terjadi sesudah mereka pamitan dengan Aji Kumbang. Mereka menyimpang ke benteng pertahanan Aji Kumbang. Di sekitar benteng itulah Bui Nasi menghamburkan seluruh harta benda bawaannya. Sengaja supaya rakyat Aji Kumbang memberitahukan kepada Aji Kumbang. Mendengar itu, maka bergeloralah hati Aji Kumbang untuk mendapatkan harta itu, yang sebenarnya adalah hartanya sendiri. Dengan gembira ia memerintahkan seluruh rakyat pergi membongkar mencabut bambu aur berduri untuk mengumpulkan harta benda yang berharga itu. Bambu dicabut dan kemudian hanyut ke sungai Kapuas. Kini bambu pertahanan Aji Kumbang habis dicabut. Aji Kumbang tidak takut lagi terhadap serangan Aji Melayu. Ia percaya dan yakin akan siasat dan janji Bui Nasi. Di lain pihak, Aji Melayu siap siaga menunggu dengan cermat, kapan bambu akan hanyut sebagai kode membantu serangan Bui Nasi untuk menghancurkan Aji Kumbang. Tiba-tiba ia melihat hanyutan bambu tak henti-hentinya. Dan melompatlah ia dari tempat duduknya serta berseru: "Pasukan supaya segera berangkat membantu Bui Nasi."! Serangan yang teratur rapih, menjadikan Aji Kumbang tak berdaya dan tewas tanpa perlawanan. Kemenangan gemilang ini telah cukup meyakinkan Aji Melayu, mengenai kakak beradik Bui Nasi dan Putung Kempat.

  Kini mereka jadi hidup bersama, damai dan rukun. Telah sekian lama hidup bersama, dan perasaan rindu pulang ke hulupun timbul lagi. Dan mereka berpamitan pada Aji Melayu. Mereka pulang dengan perasaan gembira sebab telah bertemu dengan Putung Kempat yang telah hidup sehat dan senang dengan seorang raja. Karena gembira yang tak terperikan, setibanya di kampung halaman, langsung dipukulkan gong pusaka. Suara gong pusaka di atas tempat yang tinggi, bergemuruh bunyinya dan menjangkau anak telinga Putung Kempat yang sedang mengandung. Suara gemuruh menderu itu sangat mengejutkan dan mempengaruhi kesehatan Putung Kempat. Ia jatuh sakit. Dalam keadaan sakit itu pula, ia melahirkan puterinya yang pertama. Dayang Lengkong. Sakitnya berlangsung cukup lama dan sukar untuk sembuh. Bermacam-macam cara yang telah dilakukan oleh suaminya. Aji Melayu, tapi semuanya itu sia-sia. Pada suatu hari, Aji Melayu bertanya kepada Putung Kempat, apa mulanya sakit itu. Putung Kempat mengatakan bahwa asal mula ia sakit itu ialah ketika mendengar bunyi Gong Pusaka milik mereka di gunung Kujau. Aji Melayu menjadi sangat marah mendengar jawaban itu, dan ia ingin membalas dendam. Dan berangkatlah ia dengan perahu. Tapi sementara dalam perjalan, timbul kerinduan akan anak-isteri. Apalagi roman muka mereka selalu terbayang. Terpaksa ia memutar kembali pulang ke rumah. Berulang kali peristiwa ini terjadi. Dan pada suatu saat Putung Kempat mengusulkan membuat dua buah patung yang bentuknya sama dengan ia dan anaknya. BIla teringat dan rindu, pandanglah kedua patung itu. Usul ini disetujui.

      Akhirnya Aji Melayu sampai juga di puncak gunung Kujau. Ia bertemu dengan Bui Nasi, dan seluruh keluarganya. Pertemuan yang diselumuti emosi balas dendam. Aji Melayu menjadi kehilangan keseimbangan. Ia naik pitam sebelum menjelaskan maksudnya. Bukan merundingkan bagaimana cara mengobati Putung Kempat, tapi pertarungan antara ipar, yang menjadikan Aji Melayu tewas. Sebenarnya Bui Nasi tidak ingin  berkelahi dengan iparnya, tapi karena Aji Melayu terlebih dahulu menyerang. Maka Bui Nasi mendekati meriam pusaka yang bernama "GEGAR SEPETANG." Dengan menembakkan meriam pusaka ini, dunia dibungkus dengan gelap gulita, diikuti petir, halilintar hujan dan banjir yang dahsyat. Sungai Sepauk menjadi meluap airnya. Gong Tengkang jatuh ke sungai Sepauk. Untung tidak hanyut dan hilang. Sampai kini Gong tersebut masih bisa kelihatan jika air surut (surut kemarau). Bagi penduduk sekitarnya, gong itu dianggap keramat. Mayat Aji Melayu dimakamkan di Naga Sepauk.

itulah cerita Aji Melayu


untuk cerita Puyang Gana klik: cerita Puyang Gana

Sumber : Bunga Rampai Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Barat

Cerita Puyang Gana dari suku dayak kalimantan barat

cerita puyang gana hubungan cerita suku dayak dan suku melayu



     Kabupaten Sintang adalah salah satu daerah otonom tingkat II di bawah provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sintang. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 21.635 km² dan berpenduduk sebesar ± 365.000 jiwa. Kepadatan penduduk 16 jiwa/km2 yang terdiri dari multietnis dengan mayoritas suku Dayak dan Melayu.(by:wikipedia.com)
        Sungai Kapuas di propinsi Kalimantan Barat merupakan sungai yang terbesar dan terpanjang di kalimantan sekaligus di Indonesia. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan rakyat di daerah itu sejak berabad-abad lamanya. Sungai kapuas menghubungkan daerah pedalaman Kalimantan dengan daerah-daerah pesisirnya. Salah satu kota yang terletak di ujung pedalaman sungai Kapuas adalah Kota Sintang.
                         

       Kota Sintang terletak diatas tanah jepitan dua buah sungai. Sebelah kanan dengan sungai Melawi dan sebelah kiri dengan sungai Kapuas. Daerah ini disebut juga daerah Tanjung Puri. Dulunya kota Sintang terletak di seberang kanan hilir sungai Kapuas.

     Nama Sintang pada mulanya menurut istilh/bahasa Dayak atau suku Dayak yang mendiami daerah sungai Kapuas pedalaman, bernama "SENENTANG." Karena sekitar daerah kota itu banyak terdapat anak-anak sungai yang mengalir bentang-mebentang satu dengan yang lainnya.

bicara cerita rakyat pasti tidak ada habis-habisnya dan inilah cerita rakyat yang sangat melegenda di kalimantan khususnya didalam masyarakat suku dayak dan melayu, dayak dan melayu memiliki story yang panjang bahkan ceritanya berhubungan erat, seperti cerita Aji Melayu dan cerita Puyang Gana.

     Daerah Sintang pada mulanya kurang begitu terkenal. Yang terkenal sebenarnya daerah Sepauk. Bahkan lebih terkenal lagi daerah hulu yang bernama gunung "KAJAU." Konon cerita, daerah ini didiami dua orang suami isteri. Kedua orang suami isteri ini mempunyai tujuh orang anak. Sang Bapak bernama SABUNG MENGULUR dan isterinya bernama PUKAT MENGAWANG.
Adapun nama anak-anaknya itu ialah :
  • Puyung Gana
  • Belang Pinggang
  • Suluh Duik
  • Buku Labuk
  • Terentang Temanai
  • Patung Kempat (perempuan)
  • Bui Nasi
       Dari ketujuh anak ini, maka anak yang sulung yaitu Puyung Gana telah meninggal waktu baru saja lahir dari kandungan ibunya. Menurut kepercayaan mereka, Puyung Gana telah berobah menjadi hantu. Walaupun ia telah mati, tapi selalu turut mengetahui dan turut campur dalam kehidupan adik-adiknya. Ia berpribadi yang aneh sekali. Pakaiannya terdiri dari kerumunan moanyeik atau (lebah). Ikat pinggangnya dari ular. Cawatnya dari ular melilit. Alas kakinya dari kura-kura. Tongkatnya seekor biawak. Sugihnya terdiri dari cacing.

     Menurut cerita, perkawinan antara manusia dan makhluk halus pernah terjadi. Dan dari antara ketujuh anak itu, hanyalah Putung Kempat (anak yang perempuan) sajalah yang kawin dengan manusia biasa. Tapi tak disebutkan nama salah seorang kepercayaan orang Dayak, semburan Jubata Air ini selalu mengakibatkan penyakit bangkang mulik, atau penyakit kusta.

       Konon pula di antara ketujuh anak ini ada seorang yang lahir dengan membawa segenggam nasi sebagai bekal hidupnya. Anak itupun langsung diberi nama BUI NASI. Karena sangat sedikit nasi yang dibawanya itu, maka habislah dalam waktu yang sesingkat. Sedangkan Bui Nasi makin besar dan selalu ingin makan nasi, padahal pada waktu itu nasi sebutirpun tak ada lagi. Tiap hari Bui Nasi merengek-rengek minta nasi untuk dimakannya. Akan hal ini maka orang tuanya sangat gelisah dan pikiran bertambah kusut karena kebingungan. Suatu saat dikala kebingungan, maka orang tuanya berusaha dan memohon kepada Jubata Air agar dapat memberikan petunjuk mengatasi persoalan nasi yang selalu dituntut oleh anaknya Bui Nasi. Dan kedua orang tuanya mendapat bisikan, untuk memenuhi kemauan anaknya. Mereka harus rela mengorbankan jiwa raganya. Kedua orang tua itu kemudian mengundang seluruh anaknya untuk merundingkan penentuan permintaan Bui Nasi.

      Setelah berkumpul bapaknya mulai berbicara dengan nada sedih. Iapun tak sampai hati akan mengorbankan hidupnya. Juga ia tidak mau meninggalkan anak-anaknya. Tapi apa boleh buat. Ia harus menyampaikan kepada seluruh anak-anaknya. Maka Sabung Mangulur memerintahkan anak-anaknya untuk membuatkan sebuah Kepok (lumbung padi yang terbuat dari pada kulit kayu). Apabila kepok telah selesai, kami orang tuamu akan masuk kedalamnya. Kemudian kalian menutupi rapat-rapat. Sesudah tujuh hari, barulah dibuka. Pasti kalian akan melihat berbagai macam ragam bibit. Dan jangan lupa bibit-bibit itu harus ditanam semuanya dan kelak akan berguna untuk keturunan kalian pada masa-masa yang akan datang.

     Pesan kedua orang tua kepada ketujuh anaknya itu didengar dan diperhatikan baik-baik. Dan dikerjakan/dilaksanakan oleh semua anak-anaknya. Sesudah tujuh hari, maka anak-anak itu datang melihat dan membuka kepok itu, tempat orang tuanya bersembunyi. Setelah dibuka, maka tampak kedua orang tuanya sudah tidak ada di dalamnya. Yang tampak hanyalah bermacam-macam bibit seperti yang telah dijanjikan oleh kedua orang tuanya sebelum kepok itu dibuat dan ditutup. Mereka menjadi sedih kehilangan orang tuanya, dan sebaliknya juga senang karena mendapat berbagai macam bibit.

       Kemudian kakak beradik ini merundingkan untuk mengapakan bibit-bibit tanaman yang berbagai macam itu. Akhirnya mereka sepakat untuk membuka sebidang tanah yang cukup luas untuk menananmnya dengan bibit-bibit itu. Sementara mereka duduk berunding, masuklah Puyung Gana, minta berbicara. Karena keadaannya yang sangat mengerikan saudara-saudaranya, permohonan Puyung Gana ditolak oleh saudara-saudaranya. Pada waktu itu Puyung Gana meminta tanah bagiannya. Dan tanpa pikir panjang, serta dengan emosi yang meluap-luap, Bui Nasi mengambil segumpal tanah, dan dilemparkan ke Puyung Gana, diikuti dengan kata-kata: "Ambillah tanah ini, dan pergilah dari sini"! Perkataan yang kurang enak didengar ini, digunakan oleh Puyung Gana untuk alasan menguasai seluruh tanah di daerahnya, sampai ke hutan-hutan sekitarnya. Maka Puyung Gana pun gaiblah/menghilang. Karena pertengkaran yang seru ini, lupalah mereka akan membagi tanah pusakanya.

     Keesokan harinya, mereka mulai mengerjakan tanah sesuai dengan pesan orang tuanya. Dan berangkatlah mereka ke hutan untuk menebang kayu-kayu guna membuat ladang. Tampak sekali kegembiraan dalam hati mereka akan hasil pekerjaan menebang hutan itu. Nampak hutan kayu yang telah lapang dan terang. Dan pada sore harinya barulah mereka pulang ke rumah mereka. Kegembiraan selalu memenuhi hati dan pikiran mereka.

     Selesai makan malam berkumpullah mereka kembali di depan rumah panjang. Mereka duduk berunding bagaimana pekerjaan mereka untuk keesokan harinya. Pagi-pagi benar secara beramai-ramai mereka memikul segala alat perlengkapannya untuk meneruskan pekerjaan mengolah ladang. Dan dari kejauhan mereka mencoba menerka-nerka dimana tempat yang telah dikerjakan mereka kemarin. Mereka heran melihatnya. Ada sebagian yang menyangka mungkin salah mendatangi ladang itu. Kemudian timbul perbantahan di antara mereka. Ada diantaranya yang mengatakan bahwa tempat ini tidak salah. Karena bekas-bekas jejak masih ada. Akhirnya diselidiki secara cermat dan ternyata tempat itu adalah yang telah ditebang pohon-pohonnya kemarin. Timbullah pertanyaan di dalam hati mereka semua. "Kenapa pokok-pokok kayu yang telah ditebang kemarin itu, kini telah tumbuh berdiri kembali!" Keadaan telah kembali semula.

      Kembali menjadi hutan rimba. Segala kayu telah berdiri, bersambung, namun demikian tidak mengecewakan mereka. Dan tanpa banyak bicara, ramai-ramai mereka mengayunkan kampak untuk menebang pokok-pokok kayu itu kembali. Bunyi kampak dan derunya kayu-kayu yang tumbang menambah keramaian dalam hutan itu. Dan kayu-kayu itu telah tumbang semuanya. Sementara itu, hari telah sore, dan mereka pun pulang ke rumah panjang mereka. Mereka menjadi senang kembali, karena usaha menebang kayu-kayu itu telah selesai semuanya. Keesokan harinya mereka kembali melihat dan akan meneruskan pekerjaan. Dan dari jauh mereka mengamati tempat yang dikerjakan kemarin itu. Ternyata keadaan pohon-pohon itu telah tumbuh kembali. Dan tanpa banyak bicara, serta banyak pertimbangan, mereka kembali menebang pohon-pohon itu. Pada sore hari, mereka kembali pulang. Keesokan harinya mereka datang, dan didapatinya keadaan seperti sediakala. Akhirnya mereka duduk berunding. Mereka ingin mengetahui apa sebabnya dan bagaiamana caranya untuk mengatasinya. Mereka tetap ingin mengerjakan ladang sesuai dengan pesan kedua orang tua mereka yang kini telah berubah menjadi berbagai macam bibit.

    Selain itu mereka bersepakat agar ada giliran menjaga ladang diantara mereka. Kini mereka bekerja lebih giat dari pada hari-hari sebelumnya. Mereka kini mulai bergiliran jaga. Tugas dari yang menjaga ialah mempelajari siapa yang melakukan perbuatan yang aneh dan luar biasa itu. Untuk giliran pertama, yang menjaga ialah si Buku Labu. Sengaja mereka menunjuknya, karena ia seorang yang tak berkaki dan tak bertangan. Maksudnya supaya ia tak boleh lari bila menemui sesuatu yang menakutkan. Ia harus tetap menyaksikan segala sesuatu yang terjadi seperti yang dialami mereka selama ini. Dan perhitungan mereka ini sangat tepat sekali. Pada malam yang pekat, gelap gulita, tiba-tiba datanglah suara yang sangat dahsyat. Suara itu membuat Buku Labu sangat terkejut. Serasa mau terbang dari tempat itu. Tapi apa daya mau merayap, tak bertangan, mau lari tak berkaki. Terpaksa semangat dihidupkan untuk mengatasi ketakutan yang mencekam di malam yang gelap itu. Ia hanya mempasrahkan diri. Menunggu apa saja yang akan terjadi. Tiba-tiba terdengar suara yang lebih menakutkan lagi. "Kas mengkaras, bersambung segala raras"! Mengikuti suara ini, nampak jelas pokok-pokok kayu yang telah ditebang oleh mereka itu mulai berdiri dan bersambung kembali seperti biasanya. Perkataan ini berulang-ulang hingga menjelang pagi.

     Dan pada pagi harinya mereka itu datang. Mereka akan meneruskan pekerjaan ladangnya. Dan jauh mereka melihat bahwa peristiwa yang lalu, telah berulang kembali. Kejadian ini tidak pernah mengecewakan mereka. Bahkan sesama mereka berkata bibit sudah tersedia, apa guna kita menghentikan usaha ini. Bukankah kalau sampai berhasil, akan memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk anak cucu kita kelak. Ayolah kita teruskan, ucap salah seorang di antara kakak beradik itu. Maka mereka mulai bekerja dengan giat lagi. Semangat bekerja lebih berapi-api. Di sore hari mereka harus pulang. Giliran terakhir, Bui Nasi yang harus menunggui. Bui Nasi menunggu datangnya malam dengan hati yang berdebar-debar. Apakah ia sanggup bertahan atau tidak. Dan ia mulai menguatkan batinnya dengan berdoa. Bagi Bui Nasi, walaupun apa yang akan terjadi, ia akan melawannya. Dan dalam perlawanan itu, ia berusaha untuk menang. Hari makin gelap. Bui Nasi merasa ngantuk dan ia memejamkan matanya sebentar. Tapi hati Bui Nasi berperang antara kantuk dan tugas. Makin gelap suasana di ladang itu, Bui Nasi menjadi semakin cemas. Tiba-tiba terdengarlah suara yang benar-benar dahsyat. Tapi Bui Nasi tidak takut. Malahan ia marah dan mau mengejar suara yang datang itu. Tanpa diduga-duga, ia berhadapan langsung dengan seorang yang berbadan hitam dan tinggi kekar.

    Maka terjadilah suatu pertarungan sengit antara kedua makhluk itu. Segala tenaga gaib dan kesaktian yang dimiliki oleh Bui Nasi dikerahkan untuk menaklukan lawannya itu. Sampai dengan akhir pertarungan, tidak dapat dipastikan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Masing-masing ingin istirahat. Detik-detik istirahat itulah Puyung Gana mengucapkan kata-kata ingin berdamai. Ia menyatakan dirinya bukanlah orang lain. Ialah kakak yang sulung dari ketujuh kakak beradik itu. Ialah yang bernama Puyung Gana. Dia menyatakan bahwa ialah yang juga berhak memiliki pembagian harta terutama pembagian tanah. Ia mengusulkan agar jangan ia ditolak. Jika kalian menolak saya, tidak akan saya memberikan kalian kesempatan untuk membuka ladang dimanapun juga. Puyung Gana memperingatkan, perbuatan melemparkan segumpal tanah dimasa yang lalu. Melemparkan tanah segumpal, baginya telah dijadikan alasan untuk menguasai seluruh tanah. Jadi siapa saja yang akan membuka ladang, harus meminta izin kepada Puyung Gana. Segala perkataan yang diucapkan Puyung Gana, diikuti dan diingat baik-baik oleh Bui Nasi. Dan kini Bui Nasi sadar akan perbuatannya di masa yang lampau. Dialah yang melemparka segumpal tanah kepada kakaknya Puyung Gana. Maka kini setelah keduanya bertemu, Bui Nasi mengakui kesalahannya dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut: "Puyung Gana, mulai sekarang ini kami akui engkau sebagai kakak kami yang tertua dan sejati."! Sementara itu ia juga bertanya: "Bagaimana juga caranya supaya mengerjakan ladang dengan mudah?"

      Kemudian Puyung Gana sebagai kakak yang tertua menjelaskan sebagai berikut. Katanya: "Harus memperhatikan tiga gugusan bintang." Ketiga gugusan itu adalah sebagai berikut : Bintang tiga tanda mulai mengerjakan ladang. Bintang Lima tanda musim menebang kayu. Dan bintang empat tanda padi dilanda bencana. Mungkin babi, mungkin juga hama. Dan sampai kini penduduk daerah Sintang masih tetap mempercayai tanda-tanda alam ini. Melihat bintang pertama, itu bukan berarti terus langsung membuka ladang. Tapi sebelum membuka ladang harus mengadakan upacara adat terlebih dahulu. Adakan korban, memohon izin kepada rokh-rokh halus. Rokh halus ialah Puyung Gana sendiri. Bahan-bahan untuk korban juga telah digariskan oleh Puyung Gana sendiri. Adapun bahan-bahan itu ialah :
  1. Tujuh buah tajau emas
  2. Tujuh lungkung besi
  3. Tujuh telor ayam
  4. Tujuh ekor babi.
Bahan-bahan itu merupakan suatu peraturan yang mengejutkan Bui Nasi. Dengan spontan Bui Nasi mengucapkan kata-kata tidak sanggup. Ke tidak sanggupan Bui Nasi cukup dimengerti juga oleh Puyung Gana. Kemudian kata Puyung Gana. Syarat-syarat ini bukanlah yang sebenar-benarnya. Saya akan berikan keringanan gantinya antara lain:
  1. Tujuh buah tajau emas diganti dengan tujuh buah kerabung/kerubung (kulit) telur ayam, diisi dengan beras kuning.
  2. Tujuh lungkung besi yang harusnya tombak, diganti dengan paku atau bahan besi lainnya.
  3. Ayam cukup seekor
  4. Babi cukup seekor saja
      Seluruh persyaratan ini harus diletakkan berjejer, teratur rapih. Korban ini disebut "persembahan pangkal benih." Untuk meletakkan pangkal benih, penting sekali mendengar bunyi burung. Jika telah mendengar bunyi burung itu suatu tanda yang baik, dan nanti setelah tiga hari saja Puyung Gana akan muncul. Apabila kamu melihat saya berpakaian lengkap seperti biasanya, berarti kamu harus memberi "pendrek" (sajian). Meminta izin dan harus memberikan makanan untuk Puyung Gana. Ini suatu pertanda kamu akan mendapat panen yang memuaskan. Sesudah panen, jangan lupa harus mengadakan pengucapan syukur. Pesta Ucapan Syukur. Hingga sekarang suku-bangsa ini selalu mengadakan pesta ucapan syukur yang hebat. Adakalanya sampai menghabiskan semua hasil panennya. Pesta adat ini dalam bahasa daerah disebut "Pesta Adat/gawai adat Ngumpat Batu Nyapat Tahun."

      Anjuran-anjuran  Puyung Gana, diperhatikan semuanya dan dikerjakan oleh anak-anak itu dengan penuh keyakinan. Karena telah dikerjakan dengan sebenarnya, akhirnya mereka telah mendapat hasil yang luar biasa banyaknya. Maka diadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Sementara mereka dalam suasana kegembiraan yang luar biasa ini, turunlah mereka mandi kesungai. Dan bersimburanlah dengan air anak-anak itu. Adat sekarang masih berlaku pada suku ini.

itu mengapa masyarakat adat terutama masyarakat adat dayak yang mayoritas petani berladang, selalu mengadakan upacara sengkelan padi / pangkal benih / minta izin kepada Puyang Gana, sebelum memulai membuka ladang baru, dan mengadakan pesta tutup tahun atau gawai adat sebagai ucapan syukur atas hasil panen. dan samppai sekarang adat ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat-masyarakat adat di sana.

cerita turun temurun Sabung Mengulunr dan istrinya Pukat Mengawang, dari cerita Puyang Gana, Bui Nasi, sampai Aji Melayu sambung-menyambung dan memiliki banyak versi didalam masing-masing suku disana akan tetapi pada inti ceritanya hampir sama, di postingan berikutnya adalah kelanjutan cerita dari Puyang Gana yaitu cerita: Patung Kempat (perempuan) dan Aji Melayu.

untuk membaca ceritanya silahkan klik:Patung Kempat (perempuan) dan Aji Melayu.


sumber:cerita rakyat turun-temurun dan dari"bunga rampai, cerita rakyat kalimantan Barat"

Sejarah singkat perjalanan Kerajaan Sintang

                              
                                     picture by : Theofilus Irwan/ IG:@oekirkata

      Kerajaan, ini diperkirakan awalnya terletak di Desa Tabelian Nanga Sepauk, berjarak sekitar 50 km dari Kota Sintang (saat ini).Bukti sejarah berdirinya kerajaan ini dapat ditelusuri melalui sejumlah benda peninggalan sejarah. Sebuah patung yang menyerupai Siwa ditemukan di Desa Temian Empakan, Kecamatan Sepauk. 
     Patung ini mempunyai empat tangan yang terbuat dari perunggu.Di samping itu, juga ditemukan Batu Lingga dan Joni yang bergambar Mahadewa di Desa Tabelian Nanga Sepauk (masyarakat menyebutnya dengan nama lain, Batu Kalbut). Di desa yang sama, ditemukan batu yang menyerupai lembu, beberapa kapak batu, dan makam Aji Melayu.Asal-usul nama Sintang berasal dari nama Senentang yaitu tempat bertemunya dua aliran sungai Melawi dan sungai Kapuas. menurut cerita rakyat, Pendiri Kota Sintang adalah Demong Irawan yang bergelar Djubair I. Demong Irawan adalah keturunan kesebelas dari Aji Melayu dengan istrinya Putung Kempat.Putung Kempat adalah anak dari pasngan suami istri bernama Embun Mangulur Pukat Mengawang. Aji Melayu berasal dari semenanjung Melaka yang menikah dengan seorang gadis asal Kalimantan Barat bernama Putung Kempat dan mempunyai anak bernama Dayang Lengkong. Dari perkawinan ini lahirlah Dayang Lengkong yang menikahi dengan Patih Selatung yang berasal dari Majapahit,Dayang Lengkong sendiri memiliki garis keturunan yang merupakan para pewaris tahta kekuasaan di Kerajaan Sintang Hindu berikutnya, yaitu: Abang Panjang, Demong Karang, Demong Kara, Demong Minyak,
      Dayang Setari, Hasan, Demang Irawan (Jubair Irawan I) dan Dara Juanti. Setelah Demong Irawan wafat, tahta kekuasaan dipegang oleh Dara Juanti. Pada masa pemerintahan Dara Juanti, Kerajaan Sintang pernah mengalami masa kemajuan dan kemakmuran. Setelah Dara Juanti mengundurkan diri kerajaan Sintang mengalami kemunduran, setelah beratus-ratus tahun kemudian muncul Abang Samad sebagai raja dari keturunan Dara Juanti. Setelah Abang Samad, tampuk pimpinan Kesultanan Sintang dipegang secara berturut-turut oleh: Jubair Irawan II, Abang Suruh dan Abang Tembilang. Kemudian Abang Pencin yang bergelar Pangeran Agung. Abang Pencin merupakan penguasa terakhir di Kerajaan Sintang Hindu. Ia juga merupakan raja yang menganut Islam pertama kali di Sintang. Masa pemerintahan Abang Pencin dapat dikatakan sebagai babak baru masa Kesultanan Sintang Islam.

Sumber : ( Dari Sejarah Kerajaan-Kerajaan Di KalBar )

KEMPUNAN

KEMPUNAN

malam ini kita bahas suatu Hal unik yang  oleh masyarakat Dayak di anggap penting/pantangan yang memiliki akibat dari kesalahan/ keteledoran kita. yaitu kebiasaan Unik yang disebut oleh Masyarakat Dayak adat PUNAN/ KEMPUNAN;
adat punan/ kempunan adalah suatu keyakinan masyarakat Dayak yang sudah sangat melekat di dalam masyarakat dayak, yang dimana menurut keyakinannya "kempunan" adalah akibat dari keteledoran kita sendiri, 
yang disebut kempunan adalah suatu hal  teledor dalam tanda kutip makanan/minuman yang ingin kita makan atau minum / ataupun perencanaan makan sesuatu atau minum sesuatu tetapi tidak dilakukan, yang setelahnya terdapat musibah kepada kita, itu disebut kempunan. lebih jelasnya  contohnya: saya berencana minum kopi sebelum saya berangkat kerja, tetapi saya tidak jadi minum kopi dan saya langsung berangkat saja. nah, pada saat diperjalannan saya tiba2 kena musibah, misalnya jatuh dari motor dan terluka. nah itu merupakan akibat dari Kempunan. 
dan kepunan juga bisa disebabkan oleh orang lain: contohnya: anda ditawarkan semangkok bakso oleh teman anda tetapi anda tidak memakannya atau tidak menyentuhnya karena terburu2 ataupun alasan lain. nah hal itu juga bisa menjadi petaka bagi kita yang ditawarkan sesuatu.
dan kempunan itu menurut masyarakat yang meyakininya tidak ada batasan seberapa berat musibah yang bisa menimpa kita, bahkan kempunan bisa mengakibatkan  musibah yang super-super super Fatal artinya kempunan bisa menyebabkan musibah sapai pada kematian, Jadi dengan keyakinan inilah yang membuat masyarakat adat Dayak yang masih memegang adat ini sangat-sangat berhati2 dengan adat ini, mereka berusaha tidak melakukan kesalahan yang seperti merencanakan makan atau minum sesuatu, tapi tidak melakukannya. tapi menurut mereka yang percaya akan hal ini, jika kita ingin makan atau minum sesuatu tapi tidak kita bicarakan atau tidak kita ucapkan itu tidak apa, akan tetapi harus diingat sampai kita sempat/ bisa makan atau minum hal tersebut yang kita inginkan. 
dan menurut mereka juga kempunan itu dapat dihindari dengan, misalnya : kita merencanakan minum kopi, maka kita harus menyentuh kopi itu dan bilang "Posek/Cal"(bahasa Dayak), begitu juga dengan makanan atau minuman lain. 
begitulah keyakinan unik yang ada dalam Masyarakat adat yang masih memegang adat Punan/Kempunan. hal ini bukan hanya keyakinan tanpa sebab, memang banyak sekali kejadian yang tidak mengenakan dari kempunan/ entah itu kebetulan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu tapi yang pasti masyarakat disana masih ada yang meyakininya.

cerita rakyar sintang kalimantan barat Apai Aloi/ Apai alui

cerita rakyar sintang kalimantan barat Apai Aloi/ Apai alui

Hallo selamat malam bray,,
malam ini saya engak tidur, maklum masih nunggu  UEFA Champions League, pecinta bola pasti nunggu juga ya,,hehe,, tapi menunggu adalah hal yang sanggat membosankan, sobat pasti setuju, apalahi kalau tidak ada kegiatan lain mana acara TV engak ada yang menarik, wah,,wah,, dari pada bengong, saya mau cerita sedikit tentang Cerita rakyat yang terkenal di sintang kalimantan barat dan pokoknya sekalimantan barat lah ceritanya sih dari mulut ke mulut, tapi sampai sekarang masih tetap melekat di dalam masyarakat disana, ini cerita tentang seseorang, yang boleh dikatakan Artis legen masa lampau hehe,,,
begini bray cerita rakyat sintang kalimantan barat, konon menurut cerita nenek saya, dulu hiduplah seorang laki-laki yang teramat terkenal konyolnya, namanya Apai ALUI/ Apai Aloi bisa juga entah dari mana asalnya nama itu, entah dari mana asal dia, entah dari mana cerita itu bermula, entah benar adanya atau tidak semua masih tetap menjadi legenda yang misterius yang mungkin akan selalu menjadi pertanyaan apakah ada apakah benar dan apakah ini hanya karangan belaka, sampai sekarang tidak ada yang bisa memberi bukti kuat tentang kebenarannya pasalnya cerita ini sudah sanggat lama, bahkan dari nenek-moyang orang dayak/ masyarakat disana sudah ada cerita ini yang turun temurun. apai aloi ini, terkenal dengan tingkkahnya yang konyol yang bodoh, dll lengkaplah cerita konyol si apai aloi yang memang tidak pantas ditiru,
contoh cerita yang saya dengar tentang apai aloi dari nenek saya. :)
begini ceritanya:
apai aloi, tabab (istrinya) aloi(anaknya) saya juga kurang mengerti nama apai aloi itu dari mana,tapi yang jelai apai aloi kalau di artikan dalam bahasa indonesia Ayah aloi,hehe,
apai aloi dan keluarganya tinggal di desa kecil tetapi mereka juga memiliki rumah di ladang, pada suatu apai aloi berencana pergi berburu, nah pada saat itu pas musim panen padi, si apai aloi pun meminta izin pada istrinya mau pergi keladang dan sekaligus berburu, istrinya pun mengijinkan apai aloi pergi, dan apai aloi pun bergi keladang, pada saat perjalanan si apai aloi ini membuat jebakan / perangkap Kijang pas diladangnya, setelah perangkap itu jadi apai aloi pun pergi berburu ke hutan tapi si apai aloi ini tidak menemukan satupun binatang buruan akhirnya hari pun sore si apai aloi ini pun pulang kerumah ladangnya/ gubuk ladangnya, sampai dirumah siapai aloi tidak langsung bersiap2 pulang kekampung pasalnya siapai aloi ini berencana menginap diladang, akhirnya haripun malam, apai aloi memang bukan penakut, jadi dia sudah terbiasa dengan kesunyian di tengah hutan, apai aloi pun tidur, dan keesokan harinya si istri dan anaknya menyusul keladang, ternyata pas istrinya datang siapai aloi ini masih tidur, marahlah sang istri, woiii,, kok tidur terus,ya mungkin gitulah bahasanya. akhirnya apai aloi bangun dan disuruh istrinya pergi keladang mengambil buah singkong untuk pakan ternaknnya, lalu apai aloi pun bergegas pergi, karena dia takut sama istrinya, apai aloi pergi keladang dan sekaligus melihat perangkap yang dia pasang apakah ada hasilnya atau tidak, tapi setiba dissana apai aloi pun senang melihat perangkapnya berhasil menjebak seekor kijang, nah inilah salah satu kebodohan apai aloi yang terkenal itu, apai aloi pun mendekati si kijang, setelah itu setelah dia memastikan apakah kijang itu memang sudah terjebah perangkapnya apa belum, setelah itu apai aloipun langsung mencari bumbu2 masak keladang, sementara kijang itu masih terjebah, dan masih hidup, akhirnya setelah mendapatkan bumbu2 yang akan digungakan untuk memasak si kijang itu, apai aloi pun pergi menghampiri kijang itu lalu mengikat bumbu2 yang sudah dikumpulkan itu di pinggang/pungung kijan malang itu tadi dan apai aloi pun melepas ikatan yang masih menempel di leher kijang tersebut, setelah melepaskan kijang itu dari jeratan, akhirnya si apai aloi ini menyuruh kijang itu pergi kerumah ladangnya, apai aloi: kijang kamu duluan ya,saya masih gali buah singkong dulu pesanan tabab(istrinya), kamu duluan  pergi kerumah ladang nanti nyampai disana kamu mau dimasak tabab.  namun kijang itukan tidak akan menjawab hehe,,, akhirnya dia lepaskan kijang tersebut kijang itu pun mulai berjalan tapi anehnya kijang itu agak sedikit nurut, pada saat kijang udah dilepaskan si apai aloi bilang ; jangan belok2 lurus saja nanti sampai ke rumah, kata apai aloi kijang itupun pergi dari hadapan apai aloi, ternyata disin apai aloi tidak pernah berfikir kalau kijang itu bisa lari, dan tidak mau menuruti keinginannya, lanjut apai aloi pun pergi menggali singkong pesanan istrinya , dan setelah itu semua selesai haripun sudah tengah hari apa aloi pun bergegas pergi menuju rumah ladang karena apai aloi sudah lapar dan tidak sabar ingin menyantap hasil buruannya itu tadi, setelah apai aloi nyampai kerumah ladang kebetulan istrinya lagi memasak didapur, apai aloi pun langsung bertanya: ma,, udah masak kah kijangnya, lapar ni,,, istrinya pun menjawab; kijang, kijang, mama lagi masak daun singkong, apai aloiiii.... apai aloi pun menerus perkataannya; eeii bodoh, ngapa kijang engak dimasak, padahal bumbu udah lengkap semua,
tabab menjawab: mana kijang engak ada kijang bodo,, apai aloi bilang tadi saya dapat kijang setelah itu saya suruh kijang pulang duluan kerumah , biar dimasak, tabab: haja bodoh amat kaw ini apai aloii, kijang disuruh pulang sendir, mana mungkin nyampai, haja bodoh,
istri apai aloi pun memarahin apai aloi habis2an dan berpesan lain kali kalau perangkapnya dapat kijang atau yang lainnya jangan lupa dipukul biar mati, kata tabab dengan emosi.
tapi apai aloi ini, tidak mau disalahkan dong, dia bilang, inikan gara2 kamu, tadi kamu nyuruh saya pergi abil singkong, sementara kalau aku pikul singkong kan engak mungkin bisa mikul kijang,,
dan bla-bla bla bla perdebatan keduannya pokoknya habis2an lah, tapi apai aloi ini memang tidak berfikir sejauh itu kalau kijang buruannya menghianati dia, apai aloi pun tidak berfikir kalau kijang itu adalah binatang liar yang akan tetap liar boro2 mau nurut, lihat manusia aja lari,
akhirnya perdebatan berakhir dengan kemarahan tabab yang luar biasa, dan apai aloi pun masih tetap tidak mengerti bagaimana menangani jika menemukan hasil buruan dll, pokoknya apai aloi ini adalah orang yang tidak masuk ajar, tidak bisa diajar sama sekali apai aloi menjadi fenomenal di masyarakat di sana karena kebodohannya, kekonyolannya, dan lain-lain makanya orang biasa menyama2kan orang yang bloon di katai kayak apai aloi aja, kamu ini,hehe....


ini contoh kecil yang dipersingkat sobat soalnya banyak sekali cerita dan detailnya kalau diceritakan secara detail mungkin satu cerita aja bisa memakan waktu yang relatif lama,hahaaa